Apakah saya akan jadi PNS sampai pensiun ??...

Bagi sebagian besar rakyat Indonesia mungkin bisa saya katakan sekarang ini menjadi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) mungkin menjadi sebuah profesi yang di idam-idamkan. Bukti nyatanya, saya pernah mengantar kakak kandung yang menjalani tes CPNS di semarang belum lama ini. Yang ikut jadi peserta adalah sekitar rupiah. Dalam hitungann saya itu mencapai lebih dari 5.000 orang yang mendaftar. Lalu di antara 5.000 lebih itu berapa yang diterima ??...

Sahabat bisa kira-kira berapa ???

Jawabnya adalah...

15 orang.. woow...

Itu belum seberapa dengan waktu CPNS itu terjadi di satu tempat dan satu waktu saja dari seluruh penjuru nusantara, bisa menjadi berlipat-lipat jumlahnya. But formasi yang di butuhkan kurang lebih juga sama.

Saya dengarkan cerita suka dukanya secara langsung waktu mengantar kakak saya itu. Berhubung waktu yang di butuhkan lama sekitar 4 jam untuk tes. Maka tak ayal tempat nokrongku waktu itu yaa.. di warung makan dadakan di sekitar tempat tes. Waktu itu tes di adakan jam 08.00 di stadiun Jatidiri semarang. Sedangkan saya dan kakak saya berangkat dari rumah sekitar jam 03.00 pagi kemudian ke terminal sesudah itu menumpang bus jurusan Semarang.

Ketika di warung itulah saya mendengarkan cerita-cerita dari para pengantarnya. Ada yang sampai harus menginap di sekitar tempat tes. Dan bahkan banyak juga yang berasal dari luar wilayah Jawa Tengah, hanya dan hanya untuk mengikuti sebuah tes CPNS. Woooow... ..

Saya juga bercerita bahwa saya adalah juga seorang PNS. Saya sesudah lulus kuliah sekitar 1-2 bulan kemudian ada tes CPNS. Pesertanya juga sama ribuan seperti ini. Kemudian saya ikut dan ternyata di terima. Mereka agak terkejut juga waktu itu. Dan ada salah satu yang bilang itu sebuah anugrah.

Saya masih ingat ketika 4 tahun yang lalu saya mendaftarkan diri. Kakak yang saya antar tes ini juga mendaftar sama seperti saya. Dan ketika saya di terima saya terus mengatakan dan memang seperti itu dalam diri saya. Andai bisa di alihkan yang di terima kakak saya maka akan saya berikan. Atau andai ada orang yang membayar 30 juta dan itu bisa di alihkan akan saya alihkan..he...he..Padahal konon 60 jutaan kalau harus lewat belakang. Dan saya bersih sih...tanpa sepersenpun.

Lalu kenapa saya bersikap seperti itu ???.

Saya sebenarnya memang sejak lama tak terlalu ingin menjadi seorang PNS. Saya memang ingin menjadi seorang pengusaha.

Lalu kenapa saya daftar CPNS. Saya bilang faktor keluargalah yang paling dominan di sini. Sahabat bisa bayangkan dari 7 orang keluarga ibu semuanya adalah PNS dan suami atau istri dari paman maupun bulikku adalah semuanya PNS kecuali seorang saja suami bulikku yang menjadi carik (sekarang carik juga PNS red.). Jadi bisa di katakan semua keluargaku adalah PNS. Dan merupakan kebanggaan buat keluarga kalau ada anggota keluarga yang juga jadi PNS. Tak ayal, faktor keluargalah yang mempengaruhiku. Dengan jadi PNS aku berarti menyenangkan ibuku dan keluarga besar kami. Faktor kedua tentu saja adalah karena aku butuh modal untuk sebuah usaha. Dan salah satu caranya adalah dengan menjadi seorang PNS.

Lalu apakah saya akan menjadi seorang PNS sampai pensiun. Kuat dugaanku bahwa saya tidak akan sampai pensiun menjadi seorang PNS. Ataupun kalau sampai PNS maka PNS bukan merupakan profesiku. Hanya sebagai sampingan.

Ada pikiran yang meloncat-loncat dalam diriku. Pikiran yang penuh tantangan dan tidak di temukan dalam dunia PNS. Semua teman-teman sesama PNS, memang yang saya temui berpikiran bahwa ”Kemapanan” adalah salah satu faktor yang membuat mereka tidak mau untuk beresiko dengan membuka usaha dan seterusnya. Sebuah usaha tentu saja ada untung dan rugi. Sedangkan pola pikir PNS, karena butuh kemapanan dan terbiasa dengan kemapanan mereka tidak siap dengan kata RUGI. Maka kalau saya menemui sahabat yang masih tidak mau tertantang untuk RUGI atau untuk tidak stabil atau mapan saya selalu mengarahkan orang-orang seperti ini jika ingin berinvestasi selalu saya arahkan untuk berinvestasi ke tanah. Karena investasi tanah itu bisa dikatakan tak ada ruginya. Kecil kemungkinan berinvestasi ke tanah RUGI.

Saya katakan KETIKA KITA MAU MELOMPAT KEPADA SESUATU KEINGINAN YANG LEBIH TINGGI, MAU TIDAK MAU KITA HARUS BERPINDAH DARI TEMPAT YANG SUDAH NYAMAN PADA DIRI KITA. Berpindahnya kita itu belum pasti tentunya. Bisa jadi kita naik tapi bisa jadi kita jatuh, itu adalah resiko yang harus di tanggung. Ketika sesorang tidak mau seperti itu, maka biasanya ia akan memilih tempat nyaman atau kemapaman yang ia peroleh sekarang itu.

Kembali kepada soal PNS diriku ??... Apakah sampai pensiun ??. Hanya Allah yang maha tahu. Tapi yang jelas aku ingin naik. Dan tertantang untuk naik. Maka kemapanan harus aku tinggalkan terlebih dahulu.

Ditulis di bangsal Amarta RSJD surakarta jam 5 :50 Rabu 4 februari 2009. Ketika pikiran meloncat-loncat untuk keluar dari rutinitas, bahkan ada suatu keyakinan kuat tinggal dan menetap di sebuah tempat di luar Indonesia. Allahu A’lam..


Masukkan Email Kamu Untuk Berlangganan Trik2 seperti ini

Jangan Lupa Baca Juga Yang Ini :

0 comments:


:f :D :) ;;) :x :$ x( :?
:@ :~ :| :)) :( :s :(( :o Poskan Komentar